Mendung bukan berati pilu
Mendung bukan berarti sendu.
Terkadang mendung menjadi pembawa rindu
Bahwa jauh di dalam lubuk hatimu, ada namaku.
-
Selasa, 23 April 2013
Fatamorgana
Bodoh !
Hina !
Terlaknat !
Aku yg menampik perubahan itu
Perubahan semu yg kau ciptakan tanpa bisa ku sadari
Mencoba tuk bertahan pada keyakinan yg kelabu
Hingga pada akhirnya malah menghancurkan segalanya
Salah memang
Kesalahan besar
Tapi apalah guna penghapus tanpa sebuah kesalahan
Hanya perlu dinikmati
Tanpa harus dipahami
Semua akan berjalan dengan sendirinya
Kaget
Sedih
Tersentak
Hanyalah bagian dari panggung drama
Hanyalah ekspresi kekesalan raga yg ditinggalkan
Segala hal yg telah berlalu akan menciptakan sebuah goresan
Goresan yg halus tetapi akan selalu membekas pada jiwa kecil yg hina
Hina !
Terlaknat !
Aku yg menampik perubahan itu
Perubahan semu yg kau ciptakan tanpa bisa ku sadari
Mencoba tuk bertahan pada keyakinan yg kelabu
Hingga pada akhirnya malah menghancurkan segalanya
Salah memang
Kesalahan besar
Tapi apalah guna penghapus tanpa sebuah kesalahan
Hanya perlu dinikmati
Tanpa harus dipahami
Semua akan berjalan dengan sendirinya
Kaget
Sedih
Tersentak
Hanyalah bagian dari panggung drama
Hanyalah ekspresi kekesalan raga yg ditinggalkan
Segala hal yg telah berlalu akan menciptakan sebuah goresan
Goresan yg halus tetapi akan selalu membekas pada jiwa kecil yg hina
Kamis, 18 April 2013
Modus...
Sekarang ada modus penipuan baru,
bukan modus yang biasa dilakuin sama gebetan-gebetan kalian ya. Ini modus
kejahatan, penipuan sih lebih tepatnya. Miaw mau share biar kalian lebih
waspada aja.
Jadi gini
ceritanya...
Miaw masih inget, waktu itu hari senin
sore dan kebetulan hujan di awal februari. Di halaman depan, miaw lagi
duduk-duduk manja di pangkuan majikan miaw yang paling cantik sedunia. Majikan
miaw itu wajahnya eksotis sekali. Matanya hitam, rambutnya hitam panjang,
badannya mungil, pipinya chubby kayak pipi miaw. Udah gitu majikan miaw baik
baaaaaaaaaaaaaaaanget. Oke tunggu dulu, kenapa miaw jadi cerita soal majikan
miaw? maaf miaw salah fokus gara-gara belum minum mizone nih.
Oke balik lagi ke cerita awal. Sore
itu diteras, miaw lagi 'pewe' duduk-duduk dipangkuan majikan miaw yang lagi
galau gara-gara ngeliat pacarnya jalan sama cewek lain. Majikan miaw lagi asik
ngelamun sementara itu miaw lagi asik ngeliatin cowok-cowok kece yang lewat di
depan rumah siapa tau bisa di gebet, tak lama datanglah seekor
seorang ibu-ibu dengan style perlente memasuki halaman rumah. Miaw taksir sih
umur ibu-ibu ini sekitar 34-38 tahunan. Lalu roda-roda otak miaw mulai
berputar, miaw mulai bertanya-tanya pada diri miaw sendiri. "Ibu-ibu genit itu siapa?", "ada
perlu apa datang kerumah majikan miaw?", "dia mau nyari siapa?",
"atau jangan-jangan ibu ini selingkuhannya papi majikan?", "ibunya
punya anak ganteng yang bisa miaw gebet atau engga?".
Semua pertanyan itu terus mengusik
pikiran miaw, akhirnya miaw membangunkan majikan miaw dari lamunannya. Lalu
ibu-ibu itu mulai berbicara "permisi,
saya boleh minta tolong gak dek?" "ohh iya buk boleh kok, mau minta
tolong apa buk?" "gini dek, saya lagi kehabisan uang buat bayar taxi.
Saya boleh pinjem uang adek dulu gak sebanyak Rp. 50.000,00? nanti sebentar
lagi teman saya datang bawa uang." majikan miaw tanpa pikir panjang
langsung berkata "boleh kok buk
boleh, sebentar ya saya ambilkan dulu kedalam". Lalu majikan miaw
pergi meninggalkan miaw di luar dengan ibu-ibu yang gak jelas rimbanya dari
mana. "Ini bu uangnya, nanti kalo
teman ibuk udah datang langsung masuk aja bu kesini." "iya dek,
makasih banyak ya." dan ibu-ibu itupun seketika langsung meninggalkan
rumah dan tak kembali lagi mengembalikan uang majikan miaw yang dipinjam.
Akhirnya majikan miaw merelakan uangnya tidak dikembalikan dan masih tetap
berpikiran positif pada ibu-ibu perlente itu. Hingga akhirnya kejadian diawal
maret yang kelabu itu terlupakan
Kemarin siang hujan mengguyur
kediaman majikan miaw dengan derasnya, hingga sore hujannya baru reda. Majikan
miaw mengajak miaw untuk duduk-duduk lagi di halaman depan rumah. Lagi
asik-asiknya bercanda, datanglah seorang ibu-ibu mengganggu kemesraan miaw dan
majikan. Miaw sepertinya pernah melihat ibu ini tapi miaw lupa dimana. Majikan
miaw pun bertanya "ibu siapa ya? ada
perlu apa datang kesini?" "begini dek, saya lagi kehabisan uang untuk
bayar taxi. Saya boleh pinjem uang adek dulu gak sebanyak Rp. 50.000,00? nanti
sebentar lagi teman saya datang bawa uang.". Lalu miaw ingat siapa ibu
ini, ya dia ibu-ibu perlente yang datang meminjam uang kepada majikan miaw dan
tidak pernah di kembalikan lagi. Miaw akhirnya berbisik pada majikan miaw "majikan cantik, ibu ini kan yang dulu
pernah minjam uang majikan dengan alasan dan jumlah nominal yang sama, hingga
kini ibu-ibu ini belum mengembalikan uang majikan" majikan miaw
tersadar lalu memuji miaw "ohh iya
aku ingat, kamu memang benar-benar kucing pintar miaw". Akhirnya
majikan miaw menolak pinjaman ibu tadi dan berkata "ibu yang waktu itu minjam uang saya kan? dengan alasan dan jumlah
nominal yang sama juga kan? dan hingga sekarang uangnya tidak ibu dikembalikan
kepada saya." ibu-ibu itupun kaget lalu kabur menghilang entah kemana.
Akhirnya majikan miaw termenung lalu
berkata pada miaw "ternyata ibu itu
penipu miaw, aku yakin dia pinjam uangnya bukan buat bayar taxi. Itu cuma modus
supaya orang mau meminjamkan uang padanya dan tidak di kembalikan lagi. Lalu
beberapa bulan kemudian dia akan datang lagi dengan modus yang sama dan
berpikir bahwa kita telah lupa akan hutangnya pada kita." ucap majikan miaw dengan gaya sok detektif-nya.
Disini miaw sadar bahwa kelakuan
manusia jaman sekarang itu banyak sekali yang tidak benar, memanfaatkan
kebaikan orang demi mendapatkan untung dan merugikan orang lain. Untung miaw seorang
seekor kucing bukan seorang manusia. Miaaaaaaww:3
Minggu, 14 April 2013
Sewindu di Bukit Mesere
Masih kuat ingatanku akan senja yang memilukan itu
Kamu meninggalkan aku disini
Dibawah naungan langit jingga dibukit mesere
Kamu dan aku, kita
Menyatu dalam isak tangis dan pelukan yang membekukan hati
Pelukan yang hangat namun terasa amat pilu
Kamu meminta seluruh senjaku, hanya untuk menunggu kepulanganmu
Aku mengiyakan janji itu
Poros-poros otakku tak berputar seperti seharusnya
Entah apa yang ada dalam benak ini
Tapi setiap lisan yang meluncur dari bibir indahmu, melekat kuat dalam memoriku
Kita berdua membisu, membeku, bergeming
Hingga tersadar oleh pekikan nyaring dari kapal lentera
Kapal yang akan membawa ragamu menjauh dari setiap inci tubuhku
Aku tak rela melepas mu, namun tak cukup berdaya untuk menahanmu disini
Ini selalu menjadi sesal yang tak terhapuskan, mengahantui disetiap malam-malamku
Detik demi detik kulalui, berganti menjadi hari yang panjang
Aku sabar menunggumu yang yang tak kungjung kembali
Aku sabar menunggu kamu disini
Berharap bisa melihat sebuah lambaian tanggan orang yang amat aku cinta
Sudah sewindu umur rindu ini
Sudah sewindu pula aku mengahabiskan setiap senja menatap langit jingga ditempat yang sama saat kau meninggalkan aku dulu
Ditempat yang sama saat kau menjajikan kepulangan kembali padaku
Namun sore ini ada sepercik pertanyaan yang mengganjal dalam benak ini
"Hey, tidakkah ini percuma?"
"Siapa yang yang ku nantikan untuk kembali?"
"Tak lelahkan penantian yang panjang ini?"
Kini aku sadar, menunggumu hanya sia-sia belaka
Aku sadar kau takkan pernah kembali dengan lambaian tangan dan senyum sumringah yang dulu membuat aku jatuh hati
Kini, inilah senja terakhir ku untukmu
Senja terakhir ku untuk bukit mesere
Aku tak kuat menahan penyakit ini
Penyakit rindu yang tak pernah ada obatnya
Badanku telah ringkih di gerogoti sepi
Namun hatiku akan selalu ada disini, di bukit mesere untuk menunggu kepulanganmu
Kamu meninggalkan aku disini
Dibawah naungan langit jingga dibukit mesere
Kamu dan aku, kita
Menyatu dalam isak tangis dan pelukan yang membekukan hati
Pelukan yang hangat namun terasa amat pilu
Kamu meminta seluruh senjaku, hanya untuk menunggu kepulanganmu
Aku mengiyakan janji itu
Poros-poros otakku tak berputar seperti seharusnya
Entah apa yang ada dalam benak ini
Tapi setiap lisan yang meluncur dari bibir indahmu, melekat kuat dalam memoriku
Kita berdua membisu, membeku, bergeming
Hingga tersadar oleh pekikan nyaring dari kapal lentera
Kapal yang akan membawa ragamu menjauh dari setiap inci tubuhku
Aku tak rela melepas mu, namun tak cukup berdaya untuk menahanmu disini
Ini selalu menjadi sesal yang tak terhapuskan, mengahantui disetiap malam-malamku
Detik demi detik kulalui, berganti menjadi hari yang panjang
Aku sabar menunggumu yang yang tak kungjung kembali
Aku sabar menunggu kamu disini
Berharap bisa melihat sebuah lambaian tanggan orang yang amat aku cinta
Sudah sewindu umur rindu ini
Sudah sewindu pula aku mengahabiskan setiap senja menatap langit jingga ditempat yang sama saat kau meninggalkan aku dulu
Ditempat yang sama saat kau menjajikan kepulangan kembali padaku
Namun sore ini ada sepercik pertanyaan yang mengganjal dalam benak ini
"Hey, tidakkah ini percuma?"
"Siapa yang yang ku nantikan untuk kembali?"
"Tak lelahkan penantian yang panjang ini?"
Kini aku sadar, menunggumu hanya sia-sia belaka
Aku sadar kau takkan pernah kembali dengan lambaian tangan dan senyum sumringah yang dulu membuat aku jatuh hati
Kini, inilah senja terakhir ku untukmu
Senja terakhir ku untuk bukit mesere
Aku tak kuat menahan penyakit ini
Penyakit rindu yang tak pernah ada obatnya
Badanku telah ringkih di gerogoti sepi
Namun hatiku akan selalu ada disini, di bukit mesere untuk menunggu kepulanganmu
Langganan:
Komentar (Atom)